Apakah Benar Bandung Dulunya Berada di Dasar Laut?

Apakah Benar Bandung Dulunya Berada di Dasar Laut?

bandungJika kita membaca kisah Sangkuriang dengan Tangkuban Perahunya, maka akan didapat tentang asal mulanya danau purba dimana dalam cerita dikisahkan ia membuat sebuah Situ Hyang dalam semalam yang secara harafiah artinya tempat bersemayam para dewa. Menurut para peneliti, Situ Hyang inilah yang disebut danau Purba.

Danau ini sangat luas dengan jarak 30 km sisi utara – selatan, mulai Dago Pakar hingga Soreang dan 50 km sisi barat – timur sejak Padalarang hingga Cicalengka dengan ketinggian air sekitar 700 – 800 meter di atas permukaan laut. Diperkirakan kedalamannya bisa mencapai 100 meter. Sebenarnya Situ Hyang ini adalah dua buah danau yang terbelah dua yang berhadapan, istilahnya dalam bahasa Sunda kemudian disebut ‘Ngabandung” yang konon menjadi awal penyebutan nama Bandung.

Pada tahun 1935, ahli geologi asal Belanda, Van Bemmelen meneliti dataran Bandung. Ia melakukan penelitian terhadap bebatuan dan morfologi yang ada di gunung – gunung api yang mengelilingi Bandung. Bemmelen kemudian menyimpulkan bahwa danau Bandung terbentuk karena pembendungan Sungai Citarum Purba. Menurutnya, pembendungan terjadi karena adanya debu gunung api massal dari letusan dasyat gunung Tangkuban Perahu yang membentuk kaldera setelah sebelumnya didahului oleh runtuhnya gunung Sunda Purba di sebelah barat laut.

Sisa letusan gunung purba ini sebenarnya masih dapat kita saksikan sekarang. menurut Her Suganda dalam buku Jendela Bandung, jika berkunjung ke  Bandung melalui arah gunung Tangkuban Perahu atau sebaliknya, cobalah berhent sejenak di salah satu sisi jalan yang terdapat deretan pedagang kios dan jagung bakar. Lalu pandanglah arah selatan tepatnya sebuah bukit yang disebut gunung Batu yang ada di Suka Mulya, Lembang. Disanalah terjadinya patahan atau sesar saat gunung Sunda Purba meletus. Patahan ini cukup jelas sekitar 25 km. Ada juga patahan yang kemudian membentuk jurang curam.

Penelitian lain tentang adanya samudera di Dataran Tinggi Bandung juga dilakukan dengan pecarian manusia purba. Pada bulan Juli 2007, para arkeolog dan Balai Arkeologi (Balar) Bandung menemukan fosil manusia purba di daerah yang disebut Goa Pawon yang berada di sekitar jalan raya Bandung – Cianjur dan Bandung – Purwakarta. Di sini terdapat dua bukit gamping yang disebut Pasir Pawon. Seluruh kawasan ini juga biasa disebut Taman Batu oleh penduduk sekitar oleh karena banyaknya jumlah bebatuan – bebatuan karang.

Kawasan ini terbentuk karena pengendapan air lava yang kemudian mengering akibat letusan gunung – gunung api. Disinilah dulunya merupakan dasar lautan. Kenyataan ini diperkuat dengan banyaknya fosil zat koral laut yang membentuk terumbu karang sepanjang punggungan bukit atau Pasir Pawon. Terumbu purba tersebut kini menjadi batu kapur dan banyak ditambangi sebagai marmer oleh penduduk setempat sebagai mata pencaharian. Tentu saja hal ini masih merupakan misteri bagaimana bebatuan koral laut tersebut dapat hinggap dan memenuhi pedataran bukit tersebut.  Bagi anda yang penasaran mengenai Pasir Pawon ini boleh mengunjungi tempat tersebut ketika sedang berlibur ke Bandung yang juga dikenal dengan sebutan Paris Van Java tersebut.