Sudah Terdidikkah Kita?

Sudah Terdidikkah Kita?

Manajemen konflik adalah cara yang digunakan individu untuk menghadapi pertentangan atau perselisihan antara dirinya dengan orang lain yang terjadi di dalam kehidupan. Konflik dalam penyelenggaraan pendidikan saat ini terjadi karena berbagai hal seperti kekacauan penyelenggaraan ujian nasional (UN) misalnya, kualitas pendidikan yang dinilai dari ujian nasional (UN), dan juga konflik dapat terjadi karena masih terkendalanya pendidikan usia dini yang diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi kemajuan SDM. Yang sangat memprihatinkan yaitu pendidikan usia dini bukan pendidikan untuk mencetak pemimpin di masa depan tetapi pendidikan awal yang akan menentukan bagaimana tujuan akhir yang ingin di capai dan para pihak yang harus mengedepankan faktor demokratisasi, transparansi, toleransi dan mengutamakan sinergis antar berbagai pihak seperti pihak yayasan, penyelenggara sekolah yaitu guru dan kepala sekolah serta orang tua dan juga siswa.

Konsep yang sudah diakui oleh UNESCO tentang pengembangan pendidikan nilai-nilai kemanusiaan, dan banyak sekolah sudah menggunakan istilah pengembangan karakter  dalam tujuan akhir pendidikan namun pelaksanaan dalam kehidupan sehari-hari adalah hambatan terbesar. Perlu adanya persamaan persepsi dalam sebuah lembaga pendidikan dan sebuah ideologi yang didasari oleh kejujuran dan kesabaran antara guru, orang tua murid dan bahkan peserta didik itu sendiri. Ideologi bukan sebuah media untuk melegalkan dominasi kekuasaan yang memprioritaskan bagi diri atau kelompok suatu golongan.

Dalam perkembangan pendidikan saat ini banyak kita temukan pendidikan yang menggunakan kekerasan, kekejaman, korupsi, saling fitnah dan menyalahkan dan juga sampai pelecehan seksual dan kita tahu tidak mungkin menjalankan sebuah pendidikan jika menggunakan apa yang kita temukan tadi. Pendidikan yang di tempuh bukan hanya untuk mengurangi kebodohan, buta huruf, kemiskinan dll, tetapi pendidikan yang mengajarkan pembentukan moral, karakter, etika dan diimbangi dengan ilmu pengetahuan serta penguatan aqidah islam sebagai tameng menghadapi hari akhir (kiamat) kelak.

Pertanyaan kita adalah masihkah kita tetap menjalankan sebuah lembaga pendidikan yang business as usual? Masihkah penting bagi kita untuk semata menyelenggarakan pendidikan hanya sekedar mengejar apa yang dinamakan bebas dari buta huruf atau semata mengejar target program wajib belajar?. Apa yang sudah kita lihat saat ini di berbagai sudut negeri, seharusnya menjadi dasar dan cambuk untuk memicu bagi mereka yang memiliki komitmen untuk menyelenggarakan sebuah lembaga pendidikan yang lebih baik.

Gambaran pendidikan yang harus segera mendapat rumusan jitu sehingga generasi penerus bangsa dua tiga puluh tahun kelak bukan generasi cafeteria, generasi moral rusak, generasi plagiat, serta generasi copy paste. Keterlibatan seluruh merupakan prioritas mutlak dalam membangun kaderisasi guna kemajuan di masa depan.