Kisah Haru Anak Tukang Becak Yang Mencintai Putri Bupati

Kisah Haru Anak Tukang Becak Yang Mencintai Putri Bupati

Cinta ternyata tidak memandang derajat, jabatan dan pekerjaan seseorang. Kisah ini terjadi di salah satu kabupaten di Aceh. Era tahun 90-an disaat serambi mekkah masih dalam masa Konflik, disebuah desa hiduplah seorang pemuda bernama Zul, ia adalah seorang pemuda desa anak dari seorang tukang becak motor.

Pun Demikian, Zul merupakan seorang Mahasiswa salah stau Universitas Ternama di Banda Aceh dan ia mengambil Jurusan Arsitektur. Zul membiayai Kuliahnya dengan hasil keringatnya sendiri yang bekerja sebagai Barista Kopi disalah satu Warkop di Banda Aceh.

Suatu hari, Zul berkenalan dengan seorang Wanita cantik berhijab. Perkenalan Zul dengan wanita tersebut saat sama – sama menjadi Panitia Event yang digelar di kampusnya.

Semakin hari mereka semakin akrab, Zul tidak tahu bahwa Wanita yang bernama Cut itu merupakan anak Bupati di kabupaten Tempat Zul tinggal. Zul dan Cut ternyata sama – sama memiliki perasaan yang sama, namun hanya di pendam dalam hati masing – masing.

Suatu ketika, Cut ingin pindah kuliah ke Luar kota karena permintaan keluarganya. Cut tidak menolak, ia menceritakan hal tersebut kepada Zul. Zul yang saat itu sempat panik langsung mengatakan perasaan yang selama ia pendam kepada Cut. Cut pun terkejut dan menjatuhkan air mata, Cut hanya mengatakan “Lamarlah Aku kepada Orang Tua ku saat Aku pulang nanti”.

Zul mengatakan bahwa hal itu tidak akan mungkin karena diluar nanti Cut pasti akan menemukan yang lebih baik darinya, Zul berpikir bahwa Cintanya hanya bisa bertepuk sebelah tangan.Namun Zul tetap tidak mau menyerah, ia tetap memegang kata – kata si Cut tadi.

Waktu terus berjalan, Sampai Zul menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Aristektur sedangkan Cut belum memberi kabar. Zul seorang anak Tukang becak yang sudah menjadi Sarjana tetap menanti Cut, seorang anak Kepala Daerah.

Suatu hari Cut menghubungi Zul dan menceritakan bahwa Cut sudah menyelesaikan kuliahnya di Jakarta dan Cut berencana melanjutkan S2 ke Luar Negeri. Zul yang saat itu belum memiliki pekerjaan yang mapan, hanya bisa pasrah ketika Cut menceritakan hal tersebut.

Zul pun menyinggung kembali tentang perasaannya yang pernah diungkapkan dulu, Cut hanya menjawab “Datangi Orang Tua Ku sebelum Orang lain Datang”.

Zul pun mengajak keluarganya untuk melamar Cut sang anak Bupati, namun Ayahnya Zul menolaknya karena ia tidak ingin nantinya harus menerima Malu karena ia sadar hanya seorang Tukang Becak yang tidka mungkin menjadi Besan seorang Kepala Daerah.

Tetapi Zul tidak mau nyerah, waktu terus berjalan Cut pun sudah Kuliah ke luar Negeri, Zul tetap berusaha untuk mengangkat derajat keluarganya agar bisa menjadi menantunya Bupati.

Suatu ketika, Zul bertemu dengan seorang konsultan Proyek yang sangat besar ia pun diajak bekerja dalam pembangun tersebut. Zul tidak tau bahwa Proyek yang ia kerjakan itu merupakan Milik Pemerintah kabupaten.

Sesudah proyek itu selesai, Zul mendapat pujian karena pekerjaannya tidak mengecewakan. Zul pun mendapat bonus miliyaran Rupiah. Zul sudah bisa membangun Rumah buat orang tuanya daan ia dan keluarga puns empat melaksanakan ibdah Umrah.

Sesampai Zul pulang dari Ibadah Umrahnya, Sang Bupati yang merupakan Ayahnya Cut mendatangi Zul. Bupati tersebut menyampaikan terimakasih kepada Zul atas pekerjaanya dulu. Bupati menawarkan pilihan kepada Zul, “apa yang kamu inginkan dari saya” katanya.

Zul menjawab, saya tidak ingin apa – apa, saya tidak ingin harta dan kemewahan dari bapak, saya tidak ingin jabatan apapun dari bapak. Namun jika saya boleh meminta, saya ingin memperisyri anak Bapak, Cut ” kata Zul.

Sang Bupati pun kaget bukan kepalang, ia mengatakan Cut saat ini sedang Kuliah di luar, namun jika kamu memang mencintai Cut, Bulan depan ajaklah orang tua mu ke rumah saya untuk melamar Cut.

Zul Pun sangat gembira, ia langsung menghubungi Cut yang ada di Luar Negeri dan menceritakan hal tersebut kepadanya. Namun takdir berkata lain, Cut mengatakan bahwa ia tidak bisa menerima Zul karena ia sudah memiliki pilihannya sendiri, seorang Dokter dari jakarta.

Zul sangat Kecewa karena perjuangannya selama ini sia – sia. Namun ia beranggapan bahwa hal tidak mungkin memaksa sesuatu yang diluar kuasanya.

Penulis: Ariska Putri