Meugang: Himbauan Pemerintah VS Pedagang Nakal

Meugang: Himbauan Pemerintah VS Pedagang Nakal

Oleh:
Masrizal, MA

Menjelang Meugang di Aceh Pemerintah/ pemimpin selalu menyerukan agar harga daging tidak mencekik para konsumen, tapi fakta berkata lain dimana hampir setiap sudut pasar yang menjajalkan daging harga dibandrol 150-170 ribu/Kg. Ketika seorang pembeli bertanya kepada penjual mengapa harga daging sapi atau kerbau tidak dijual dengan harga yang diserukan pemerintah 130 ribu/Kg. Hampir sebagian penjual menjawab “Munyo perle yum ditnyan jak blo ju bak pemerintah” merasa dijawab demikian seorang pembeli tersebut harus menjauh dari sang penjual tempat ia bertanya, namun akhirnya dari kejauhan si pembeli tersebut tetap membeli juga daging seharga 150 ribu/Kg, karena sudah pesanan istri dirumah daging harus dibawa pulang, karena tradisi di Aceh, menjelang dua hari atau sehari sebelum puasa maka hampir semua mereka yang mampu atau kelas middle dan elit ada sebuah kewajiban bawa pulang daging kerumah. Bahkan masyarakat yang dikelas bawahpun, atau dalam bahasa aceh ” ureung gasien” rela berhutang dengan tetangga demi sekilogram daging. Sungguh dewasa ini kita perlu bertanya kepada diri sendiri mengapa himbauan pemerintah tidak lagi di dengar oleh para pedagang, tidak terkecuali pedagang daging, begitu juga mereka yang pedagang sembako.

Realitas ini menjadi satuhal yang seharusnya dipikir bijak dan tegas oleh pemerintah, mengapa himbauan mereka tidak didengar. Intinya kalau kita dalami dari cerita diatas jelas bahwa pemerintah tidak lagi dinilai sebagai seorang pemimpin bagi rakyatnya, mereka hanya pemimpin administrasi dimana dibutuhkan mereka hanya saat perlu penandatanganan sertifikat tanah, akte kelahiran, KTP/KK dan yang sejenisnya. Kalaulah selalu faktanya begini maka sebaiknya pemerintah diam saja tidak perlu buat himbauan atau angin surga buat rakyatnya, atau memang sebaliknya tujuan utama mereka hanya untuk pemameh haba dalam istilah Acehnya. Supaya ada bahan bagi rakyatnya saat di warung kopi atau dikantor-kantor ada bahan cerita, he he.

Kalaulah begitu maka sukseslah pemerintah dalam menyuarakan himbauannya. Seharusnya jika seorang pemimpin/ pemerintah peduli terhadap rakyatnya, saat ada himbauan demikian membentuk tim agar survey pasar pada hari tersebut, dan memastikan harga daging dijual dengan harga yang ditetapkan, dan bekerjasama dengan pemuda dan warga setempat, jika ditemukan ada pedagang nakal maka silahkan hubungi no kontak atau nomor telephon yang telah disediakan. Bila perlu nomor HP khusus tersebut di sosialisasikan melalui spanduk atau baliho pada setiap pasar.

Jika hal ini dipraktikkan pemerintah maka akan memperkecil lahirnya pedagang nakal. Sehingga himbuan yang dibuat bermanfaat kepada rakyatnya. Semoga!!!