• Home »
  • Opini »
  • Menjadi Pustakawan, Membanggakan, Memilukan Atau Memalukan??
Menjadi Pustakawan, Membanggakan, Memilukan Atau Memalukan??

Menjadi Pustakawan, Membanggakan, Memilukan Atau Memalukan??

Awalnya aku ragu berada di antara tiga opsi jawaban itu. Karena apa? Dari beberapa mahasiswa Ilmu Perpustakaan yang magang di tempatku bekerja saat ini, alasan kuliah di jurusan ini hanyalah sebuah “pelarian”. Pelarian dari apa saja? Jawaban yang sering muncul adalah karena tidak diterima di jurusan yang lain. Bisa jadi karena tidak lulus tes, atau ada juga yang lulus namun tidak mampu membayar biaya pendidikan yang cenderung mahal. Jadi cita-cita kecil yang ingin menjadi Dokter, Arsitektur dan lain sebagainya hanya menjadi sebuah fatamorgana.

Yahh, itulah sebagian alasan dari pelarian tersebut. Hal yang sama juga aku alami pada tahun 2006, Aku adalah seorang remaja yang sangat menggilai pelajaran Kimia saat masih duduk di bangku SMA. Namun apa daya ketika akan mendaftar di kampus UIN Ar-raniry yang saat itu masih berstatus IAIN, tinggi badan menjadi syarat mutlak untuk bisa mendaftar sebagai calon mahasiswa di Jurusan pendidikan Kimia. For your information tinggi badanku tidak sampai 150 cm saat itu. Sebagai seorang remaja yang masih labil, aku menangis sejadi-jadinya. Tuhan saja tidak membedakan manusia dari bentuk fisik, kenapa justru manusia membuat pengkotakkan pikirku.

Siang yang kerontang, di tengah debu-debu yang menyapu jalanan. Aku memandang ke sebuah museum yang terletak tepat di depan tempat registrasi mahasiswa dilakukan. Nasibku nyaris sama seperti museum itu, lantainya sudah berantakan, dindingnya penuh lubang, bangunan itu seakan tidak sanggup lagi memikul beban dirinya sendiri. Ingin roboh tapi masih ada pondasi yang melekat kuat pada bumi, ingin berdiri kokoh tapi badan penuh luka yang tak terobati. Yah gedung museum itu salah satu “korban” dari ganasnya gelombang tsunami tahun 2004. Terlalu berlebihan memang, jika aku menyamakan situasiku saat itu sama seperti korban yang diterjang, bedanya yang menerjangku bukan gelombang tapi sebuah peraturan yang bagiku begitu diskriminatif.

Tanganku masih bergetar mengenggam beberapa brosur, mataku lirih menatap kearah langit, “Tuhan, senangkah Kau melihatku seperti ini’?? bisik mulut sementara mataku mengalirkan butiran bening.

“Ya sudah, pilih saja jurusan yang ini” kata ibuku sambil menunjuk ke tulisan di dalam brosur, AIPI (Adab Ilmu Perpustakaan dan Informasi) itulah nama sebuah jurusan yang akhirnya menerima semua kekuranganku. Bahkan memberikan begitu banyak beasiswa untuk menunjang pendidikanku saat itu. Termasuk beasiswa gratis SPP selama 8 semester. Alhamdulillah aku jalani saja sampai titik jenuh penghabisan. Bukankah sebagian pujangga berpendapat, lebih baik dicintai daripada mencintai. Walaupun aku tidak menyukai jurusanku saat itu, aku belajar untuk jatuh cinta padanya karena hanya dia yang menerimaku apa adanya.
***

Aku benci ketika ada yang berkata “kamu yang jaga pustaka itu kan”
Wow, Ijazah yang kuperoleh dengan menghabiskan waktu kurang lebih 4.5 tahun, hanya digelari sebagai penjaga pustaka di mata publik, hatiku rasanya nyunsep ntah ke dasar mana. Sedih? Tentu, so? Akhirnya aku menyadari jika hatimu terluka karena sesuatu, berarti engkau mencintai penyebabnya. Mungkinkah sekarang aku jatuh cinta?Ntahlah, yang aku tahu cinta tidak memiliki definisi kongkrit, ia hanya dapat dirasakan oleh pemiliknya.

Menjadi seorang pustakawan, apa saja yang harus kami miliki? Kami harus ngerti tiga jenis Bahasa minimal fasif. Bahasa Arab, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia tentunya. Alasannya apa? Karena tidak semua informasi menggunakan Bahasa Ibu kita. Tetapi masih saja begitu banyak yang memandang kami dengan sebelah mata, bahkan mungkin seperempat dari matanya yang sebelah itu.

13 Juli 2017 pada sambutan Seminar dan Musyawarah Daerah Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Aceh ke XII, Kadis Perpustakaan dan Arsip Aceh Zulkifli S.Pd, M.Pd mengatakan minat baca di Indonesia masih berada pada posisi zero and zero artinya sama dengan nol. Berdasarkan hasil penelitian berbagai lembaga survei pada tahun 2016,minat baca di Indonesia menempati rangking 60 dari 61 negara yang teliti, dan dari 257.9 juta jiwa penduduk Indonesia hanya 26% yang memiliki minat baca. Ini adalah hal yang memalukan sekaligus memilukan.

Jangan pernah mengaku pintar jika kamu tidak suka membaca..!!

Teman-teman Pustakawan semuanya, kita memiliki peran yang penting dalam mewujudkan visi dan misi Gubernur Aceh yaitu menjadikan Aceh beucareung. Tidak mungkin ada orang Careung jika dia tidak membaca. Dengan kata lain,tugas kita adalah menjadika bangsa ini menjadi bangsa yang minat bacanya tinggi, coba bayangkan jika 257.9 juta jiwa penduduk Indonesia Pinter semua. Bisa diprediksi negara kita yang statusnya masih “konsisten” sebagai negara berkembang dari zaman kita masih bayi dan sampai sekarang udah pada punya bayi bisa merangkak naik menjadi negara yang maju bidang pendidikan, ekonomi, budaya dan lain sebagainya. Itulah harapan kita.

(semut_r4ngrang)

Sumber: https://www.facebook.com/notes/lestari-ak/menjadi-pustakawan-membanggakan-memilukan-atau-memalukan/10155583691468459/?fref=mentions