Fenomena Peminta-minta Di Kota Banda Aceh

Fenomena Peminta-minta Di Kota Banda Aceh

Dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir (dimulai periode Juli 2017) saya melihat fenomena peminta-minta ini di perempatan lampu merah Simpang BPKP – Pango – Ulee Kareng. Namun baru Kamis pekan lalu (14 September 2017) berhasil mendapatkan foto mereka. Itu juga tidak jelas, karena membelakangi objek. Walhasil dengan dikejar tenggat lampu merah (tahu sendiri kan ya orang Aceh meski lampunya belum hijau tapi kita sudah di klakson dari belakang?) dan kecepatan mengeluarkan ponsel dari dalam ransel yang tidak signifikan, mereka hanya mampu saya abadikan melalui pantulan spion sepeda motor.

Perasaan saya ketika melihat ini antara geram, sedih dan kasihan. Karena dengan (maaf) batang lehernya yang seakan menjulur dan nyaris patah; oknum-oknum terstruktur tersebut seakan ‘menjual’ kondisi fisiknya yang tidak sempurna. Jangankan berjalan diantara selipan kendaraan bermotor yang berbaris, bernapas saja ia tersengal-sengal. Belum lagi ‘si penggiring’ seringkali bukan orang yang sama. Seperti digilir dan ada pengaturan shiftnya. Pernah anak-anak, remaja tanggung, ataupun pria paruh baya.

Sebenarnya ada satu lagi remaja tanggung yang ‘diletakkan’ oknum menggunakan becak dayung tepat di depan SPBU Gp.Mulia, Banda Aceh (saya pernah melihat langsung dengan mata kepala sendiri beberapa kali saat ia diletakkan oleh pengendara becak dayung tersebut). Remaja itu sepertinya mengalami bagian kaki yang mengecil (polio) dan parahnya lagi, ‘oknum terstruktur’ yang menugaskannya tak kenal tanggung. Ia diletakkan di bawah terik matahari tanpa naungan atap atau pohon sama sekali, di gerbang, kadang mulai pukul 2 siang, pernah sejak pukul 12 siang sudah gelar lapak dengan sebuah ember kecil.

Saya amat berharap pejabat yang berwenang di bawah Pemko Banda Aceh segera mengambil tindakan tegas atas fenomena ini. Saya mencoba meyakini bahwa pemimpin yang menang di Pilkada Aceh 2017 kemarin adalah pilihan terbaik masyarakat.

Dan kalian, yang menikmati hidup dengan menjual ‘ketidaksempurnaan fisik’ oranglain, semoga bumi tidak menelan kalian.

By: Chici Adynda Sukanegara