{"id":1738,"date":"2016-10-02T01:14:08","date_gmt":"2016-10-02T01:14:08","guid":{"rendered":"http:\/\/www.syedara.com\/?p=1738"},"modified":"2016-10-02T01:14:08","modified_gmt":"2016-10-02T01:14:08","slug":"asma-bronkhial-tipe-non-atopik-intrinsik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.syedara.com\/?p=1738","title":{"rendered":"Asma Bronkhial Tipe Non-atopik (intrinsik)"},"content":{"rendered":"<p>Asma nonalergenik (asma intinsik) terjadi bukan karena pemaparan alergen tetapi terjadi akibat beberapa factor pencetus seperti infeksi saluran pernafasan bagian atas, olahraga atau kegiatan jasmani yang berat, dan tekanan jiwa atau stress psikologis. Serangan asma terjadi akibat gangguan saraf otonom terutama gangguan saraf simpatis, yaitu blokade adrenergik beta lebih dominan dari pada adrenergik alfa. Dalam keadaan normal aktivitas adrenergik beta lebih dominan dari pada adrenergik alfa. Pada sebagian penderita asma, aktifitas adrenergik alfa diduga meningkat sehingga mengakibatkan bronkhokontriksi dan menimbulkan sesak nafas.<\/p>\n<p>Reseptor adrenergic beta diperkirakan terdapat dalam enzim yang berada di membrane sel yang diknal dengan adenil siklase atau disebut juga messenger kedua. Bila reseptor ini dirangsang, enzim adenil siklase tersebut diaktifkan dan akan mengatalisasi ATP dalam sel menjadi 3\u20195\u2019 siklik AMP.<\/p>\n<p>CAMP ini kemudian akan menimbulkan dilatasi otot-otot polos bronchus, menghambat pelepasan mediator dari mastosit\/basofil dan menghambat sekresi kelenjar mucus. Akibat blokade reseptor adrenergic beta, fungsi reseptor adrenergic alfa lebih dominan akibatnya terjadi bronchus sehingga menimbulkan sesak nafas. Hal ini dikenal dengan teori Blokade Adrenergik Beta.<\/p>\n<p>Faktor pencetus timbulnya asma diantaranya sebagai berikut:<\/p>\n<p>1. Zat alergi\/alergen<\/p>\n<p>Alergen adalah zat-zat tertentu yang bila diisap atau dimakan dapat menimbulkan serangan asma misalnya debu rumah, tengau debu rumah (Dermatophagoides pterinissynus), spora jamur, bulu kucing, bulu binatang, beberapa makanan laut, dan sebagainya.<\/p>\n<p>2. Infeksi saluran napas<\/p>\n<p>Infeksi saluran nafas terutama disebabkan oleh virus. Virus influenza merupakan salah satu factor pencetus yang paling sering menimbulkan asma bronchial.<\/p>\n<p>3. Pengaruh udara<\/p>\n<p>Ibu hamil dengan asma sangat peka terhadap udara berdebu, asap pabrik\/kendaraan, asap rokok, asap yang mengandung hasil pembakaran dan oksida fotokemikal, serta bau yang tajam.<\/p>\n<p>4. Factor Psikis\/ tekanan jiwa<\/p>\n<p>Tekanan jiwa bukan penyebab asma tapi pencetus asma, karena banyak orang yang mendapat tekanan jiwa tetapi tidak menjadi penderita asma bronchial. Factor ini berperan mencetuskan serangan asma terutama pada orang yang agak labil kepribadiaanya.<\/p>\n<p>5. Olahraga\/kegiatan jasmani yang berat<\/p>\n<p>Serangan penderita asma bronchial akan mendapatkan serangan asma bila melakukan olahraga atau aktivitas fisik yang berlebihan.<\/p>\n<p>6. Obat-obatan<\/p>\n<p>Beberapa klien atau ibu hamil dengan asma bronchial ada yang sensitive\/alergi terhadap obat tertentu seperti penicillin, salisilat, kodein, dan sebagainya.<\/p>\n<p>7. Lingkungan kerja<\/p>\n<p>Lingkungan kerja diperkirakan merupakan factor pencetus yang menyumbang 2-15 % klien dengan asma bronchial.<\/p>\n<p>Beberapa tanda dan gejala pada penyakit asma adalah:<\/p>\n<p>a. Sesak napas tiba-tiba<br \/>\nb. Riwayat serangan asma sebelumnya<br \/>\nc. Riwayat atopi pada keluarga<br \/>\nd. Batuk produktif, sering pada malam hari<br \/>\ne. Gejala utama: ekspirasi memanjang dan weezing (+) yang terdengar dengan atau tanpa stetoskop (dapat juga disertai takikardi, retraksi suprasternal\u00a0 dan sianosis)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Asma nonalergenik (asma intinsik) terjadi bukan karena pemaparan alergen tetapi terjadi akibat beberapa factor pencetus seperti infeksi saluran pernafasan bagian atas, olahraga atau kegiatan jasmani yang berat, dan tekanan jiwa atau stress psikologis. Serangan asma terjadi akibat gangguan saraf otonom terutama gangguan saraf simpatis, yaitu blokade adrenergik beta lebih dominan dari pada adrenergik alfa. Dalam&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1710,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[285],"tags":[464,465,483],"class_list":["post-1738","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-asma","tag-bronkhial","tag-non-atopik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.syedara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1738","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.syedara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.syedara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.syedara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.syedara.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1738"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.syedara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1738\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.syedara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1710"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.syedara.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1738"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.syedara.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1738"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.syedara.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1738"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}