{"id":2157,"date":"2017-09-13T11:11:11","date_gmt":"2017-09-13T11:11:11","guid":{"rendered":"http:\/\/www.syedara.com\/?p=2157"},"modified":"2017-09-17T11:10:44","modified_gmt":"2017-09-17T11:10:44","slug":"untukmu-yang-sudah-menjadi-ayah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.syedara.com\/?p=2157","title":{"rendered":"Untukmu Yang Sudah Menjadi Ayah"},"content":{"rendered":"<h4>Saat anak anda sudah mampu berbicara, kenalkanlah anak tersebut pada kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah, Muhammad Rasulullah, ajari cara mengucapkannya dengan talqin yaitu dengan cara orang tua mengucapkan kalimat tauhid lalu sang anak menirukannya. Biasakan anak mendengar kalimat thayyibah ( Laa ilaaha illallah). Dengan sering memperdengarkan kalimat tersebut diharap memudahkan sang anak untuk menirukannya.<\/h4>\n<h4>Ajari juga anak mengenal Allah Ta\u2019ala, seperti mengajari bahwa Allah Ta\u2019ala berada diatas langit, Allah Maha Melihat, Allah Maha Mendengar apa saja yang dibicarakan manusia. Dengan ilmu Allah, Dia senantiasa mengawasi makhluk-Nya. Demikian dijelaskan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Tuhfatul wadud bi Ahkamil Maulud.<\/h4>\n<h4>Dalam sebuah hadits Mu\u2019awiyyah bin Hakam As-Sulaimi radhiyallahu \u2018anhu, melalui metode dialog, Rasulullah shalallahu \u2018alaihi wasallam mengajari seorang budak anak wanita berkenaan tentang tauhid. Rasulullah shalallahu \u2018alaihi wasallam bertanya kepada anak wanita tersebut, \u201cDimana Allah?\u201d. Anak wanita itu pun menjawab \u201cAllah di atas langit\u201d. Kemudian beliau bertanya lagi, \u201cSiapa saya?\u201d Jawab gadis belia, \u201cEngkau Rasulullah (utusan Allah).\u201d Kemudian Rasulullah memerintahkan agar anak wanita itu dibebaskan dari status budaknya, \u201cDia seorang mukminah\u201d. (HR. Abu Daud No.930) di shahihkan Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah).<\/h4>\n<h4>Begitulah salah satu metode belajar yang di contohkan Rasulullah shalallahu \u2018alaihi wasallam, ringan, mengalir dan tidak terkesan kaku. Metode demikian akan mampu menggugah rasa keingin tahuan anak yang lebih luas dan dalam. Anak dibawa untuk berfikir secara ramah dan tidak terkesan memaksa.<\/h4>\n<h4>Mengajari tauhid merupakan metode para Nabi dan Rasul Allah. Para Nabi dan Rasul Allah menyampaikan kepada ummat tentang tauhid. Bahkan, menyampaikan masalah tauhid adalah perkara yang pertama dan utama, karena dengan memahami dan meyakini perkara tauhid akan menjauhkan diri dari kesyirikan.<\/h4>\n<h4>Nabi Hud yang diutus kepada kaum \u2018Ad, Nabi Shalih yang diutus kepada kaum Tsamud, dan Nabi Syu\u2019aib yang diutus kepada penduduk Madyan, mereka semua para Nabi menyampaikan pesan dakwah tauhid,<\/h4>\n<h4>\u0623\u064f\u0639\u0652\u0628\u064f\u062f\u064f \u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064e \u0645\u064e\u0627 \u0644\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0625\u0650\u0644\u0622\u0647\u064d \u063a\u064e\u064a\u0652\u0631\u064f\u0647\u064f<\/h4>\n<h4>\u201cSembahlah Allah, sekali-kali tidak ada ilah (sesembahan) bagimu (yang berhak diibadahi) selain-Nya.\u201d(Al-A\u2019raf: 65, 78, 85).<\/h4>\n<h4>Demikian sunnah para nabi dan rasul, bersemangat dalam menyampaikan dakwah tauhid. Tentu saja, anak yang merupakan buah hati jangan sampai terlupakan untuk diajari tentang tauhid. Tanamkan iman di dalam dadanya, semoga sang anak tumbuh menjadi insan yang shalih serta senantiasa mentauhidkan Rabb-nya.<\/h4>\n<h4>Semoga bermanfaat.<\/h4>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saat anak anda sudah mampu berbicara, kenalkanlah anak tersebut pada kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah, Muhammad Rasulullah, ajari cara mengucapkannya dengan talqin yaitu dengan cara orang tua mengucapkan kalimat tauhid lalu sang anak menirukannya. Biasakan anak mendengar kalimat thayyibah ( Laa ilaaha illallah). Dengan sering memperdengarkan kalimat tersebut diharap memudahkan sang anak untuk menirukannya. Ajari&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2178,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[285],"tags":[663],"class_list":["post-2157","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-hikmah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.syedara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2157","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.syedara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.syedara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.syedara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.syedara.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2157"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.syedara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2157\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.syedara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2178"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.syedara.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2157"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.syedara.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2157"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.syedara.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2157"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}