Menggugat Komitmen Kesehatan di Tenda Pengungsian

 

Aceh kembali berduka. Sejak akhir November 2025 lalu, langit kita seolah tumpah, menyisakan duka mendalam bagi 225 kecamatan dan 3.678 gampong di 18 kabupaten/kota yang luluh lantak diterjang banjir bandang dan longsor. Gubernur Aceh pun telah menetapkan status masa tanggap darurat bencana Hidrometeorologi di Aceh selama 14 hari yang berlaku sejak 28 November hingga 11 Desember 2025.

Status darurat kembali dilakukan perpanjangan kedua terhitung mulai 26 Desember 2025 hingga 8 Januari 2026 oleh Mualem dengan pertimbangan kompleksitas masalah, masih memburuknya situasi dan kondisi, serta lambannya progress penanganan bencana.

Saat tulisan ini dibuat, data resmi telah menunjukkan angka yang menyesakkan dada. Per Kamis, 11 Desember 2025 pukul 17.00 WIB, Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Pemerintah Aceh melaporkan jumlah korban terdampak mencapai 499.111 kepala keluarga atau 1.926.810 jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.845 orang mengalami luka ringan, 479 orang luka berat, sementara 407 orang dilaporkan meninggal dunia dan 36 orang masih hilang.

Bencana ini telah memaksa 208.936 kepala keluarga atau 786.732 jiwa mengungsi ke 2.181 titik pengungsian yang tersebar di berbagai daerah. Kerusakan fasilitas umum juga cukup parah. Tercatat 258 unit perkantoran, 207 tempat ibadah, 266 sekolah, 15 pesantren, serta 132 rumah sakit dan puskesmas mengalami kerusakan. Sektor infrastruktur turut terpukul dengan kerusakan di 461 titik jalan dan 332 jembatan, menghambat akses logistik serta proses evakuasi di beberapa wilayah.

Data yang dirilis BNPB per Sabtu, 27 Desember 2025, pukul 08.10 WIB tercatat 1.137 orang korban meninggal, 163 orang dilaporkan masih hilang dan 457.200 jiwa masih mengungsi. Aceh mencatat korban meninggal terbanyak dengan 504 jiwa, disusul Sumatera Utara 371 jiwa dan Sumatera Barat 262 jiwa.

Namun, di balik angka-angka statistik yang mengerikan itu, ada satu krisis yang sering kali luput dari sorotan kamera media, yakni kesehatan ratusan ribu saudara kita yang kini terkatung-katung di tenda pengungsian. Kita juga tidak mampu memprediksi sampai berapa lama mereka harus tinggal dan berkehidupan disitu tanpa kepastian.

Sebagai orang yang bergelut di dunia kesehatan masyarakat, saya merasa perlu menyuarakan ini: Kita sedang menghadapi “bom waktu” kesehatan. Dengan jumlah pengungsi mencapai 457.200 jiwa, kondisi di lapangan saat ini bukan lagi sekadar darurat logistik, melainkan sudah masuk ke tahap darurat sanitasi yang mengancam nyawa.

Realita Pahit di Balik Tenda

Jangan bayangkan pengungsian adalah tempat yang nyaman. Saya yang terlibat dalam Tim Satgas Bencana bentukan instansi vertikal Kementerian Kesehatan melihat sendiri di lapangan bagaimana kepadatan manusia di barak-barak pengungsian, mulai dari Aceh Tamiang hingga Aceh Utara, telah melampaui batas kewajaran.

Dalam ilmu epidemiologi, kita mengenal Triad Epidemiology atau Segitiga Epidemiologi yang menjelaskan interaksi antara tiga komponen utama penyebab penyakit menular: Bibit penyakit (Agent), Penjamu/Inang (Host), dan Lingkungan (Environment), di mana keseimbangan ketiga faktor ini menentukan terjadinya penyakit; ketidakseimbangan bisa menyebabkan sakit. Model ini membantu memahami “apa” penyebabnya (agen), “siapa” yang terkena (penjamu), dan “di mana” penyakit terjadi (lingkungan), serta kapan (waktu).

Lingkungan yang sesak, lembap, dan minim air bersih adalah “surga” bagi patogen. Bayangkan saja, standar internasional (Sphere) mewajibkan satu toilet untuk maksimal 20 orang. Namun di banyak titik pengungsian kita, satu jamban darurat bisa diperebutkan oleh seratusan orang. Maka, jangan heran jika laporan kasus diare dan penyakit kulit meledak di mana-mana. Ini bukan takdir, ini adalah akibat dari kegagalan kita menyediakan sanitasi yang layak.

Bukan Sekadar Mi Instan

Selama ini, pola bantuan kita masih sangat reaktif dan terjebak pada pemenuhan perut semata. Mi instan dan bantuan pangan memang penting, tapi bagi bayi, ibu hamil, dan lansia, itu jauh dari cukup. Kita sering abai bahwa gizi yang buruk di pengungsian akan berujung pada penurunan imunitas yang drastis.

Penyakit seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) kini mulai menyerang balita-balita kita di pengungsian. Belum lagi ancaman Leptospirosis dari kencing tikus di sisa-sisa banjir dan demam berdarah yang mengintai di genangan air. Pertanyaannya, apakah kita hanya akan menunggu revitalisasi puskesmas terlebih dahulu, atau panjangnya antrean pentintas yang ingin berobat baru kita bertindak?

Kita butuh tenaga medis yang proaktif—yang mau masuk ke tenda-tenda, mencari pengungsi yang mulai demam sebelum mereka jatuh sakit parah. Inilah yang kita sebut sebagai active case finding.

Luka yang Tak Terlihat

Satu hal lagi yang sering kita lupakan: kesehatan mental. Rumah yang hilang, harta yang lumat oleh lumpur, dan ketidakpastian hari esok adalah beban jiwa yang luar biasa. Stres psikologis ini nyata dan berdampak langsung secara fisik (psikosomatis). Seorang ibu yang stres tidak akan bisa memberikan ASI yang baik bagi bayinya, dan seorang ayah yang depresi akan lebih rentan jatuh sakit. Layanan trauma healing tidak boleh dianggap sebagai pelengkap atau “hiburan” saja, melainkan bagian integral dari pemulihan kesehatan publik.

Sebuah Seruan Akhir

Melalui tulisan ini, saya mendesak pemerintah, dinas terkait, dan seluruh relawan untuk berhenti sejenak dari sekadar seremoni penyerahan bantuan. Mari kita fokus pada hal-hal mendasar: Pastikan air bersih mengalir, pastikan jamban tersedia cukup, dan pastikan tenaga kesehatan ada di tiap sudut pengungsian. Untuk itu dibutuhkan komitmen kita bersama memberikan layanan kesehatan yang terbaik bagi penyintas bencana dan ketersediaan sanitasi yang layak sesuai standar teknis minimum di lokasi pengungsian.

Bencana hidrometeorologi 2025 ini harus menjadi titik balik. Jangan sampai warga terselamatkan dari terjangan banjir, tapi justru membiarkan mereka meregang nyawa di dalam tenda karena ketidaksiapan kita mengelola kesehatan lingkungan. Kemanusiaan kita diuji bukan saat air meninggi, tapi saat air mulai surut dan kita melihat sejauh mana kita mampu melindungi mereka yang paling lemah.

Semoga Aceh segera bangkit!

Dr. Hermansyah, SKM, MPH (Dosen Poltekkes Kemenkes Aceh)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.