DILEMA KULAM TUHA MESJID SIEM

DILEMA KULAM TUHA MESJID SIEM

Gambar di bawah adalah penampakan sebuah kulam Tuha (kolam kuno) Meuseujid Siem atau sekarang disebut Masjid Jamik Baitul Ahad Mukim Siem, lk 10 km sebelah timur pusat kota Banda Aceh. Konstruksi kolam ini dibangun dari susunan batu batu pipih (Batè Lipéh) berbentuk piramida terbalik. Untuk mendukung konstruksi kolam pada empat sisi dasar kolam dan pada bagian tengah dasar dipasang balok 15 x 80 yang disebut dengan beunèè. Kayu balok ini telah melalui proses pengawetan yang sempurna, sehingga tidak rusak atau lapuk meski terbenam dlm air berabad lamanya.

Kulam Tuha ini diperkirakan telah berusia di atas 100 tahun. Pembangunan kolam ini bersamaan dengan pembangunan kembali Meuseujid Siem di lokasi baru yang digerakkan oleh Panglima Tgk. Syekh Muhammad Said atau lebih dikenal dengan lakap Tgk. Syik Meunasah Baro kira kira pada akhir abad XIX atau awal abad XX. Ada cerita menarik dari pembangunan kolam ini. Dikisahkan untuk memudahkan mobilisasi material Batè Lipéh dari pegunungan, rakyat berbaris berjejer (dông meubanja) dr lokasi penambangan batu hingga lokasi pembangunan kolam yang jaraknya lebih dari 3 km. Uniknya, hingga tahun 1980-an berkembang cerita mitos di tengah-tengah masyarakat, kolam ini dihuni sejenis makhluk halus yang disebut dengan “balum beudé”, yang sewaktu-waktu bisa menelan orang, terutama jika mandi sendirian. Balum Beude adalah sejenis makhluk halus yang dipercayai oleh masyarakat pesisir provinsi Aceh menghuni perairan sungai, muara sungai, kolam dan perairan pantai.

Sebelumnya Meuseujid Siem berada kawasan Cot Seumeureung Gampong Siem. Dalam sebuah drama perang frontal dengan pejuang Aceh di dekat Mesjid Siem, seorang perwira pertama Belanda yang bernama J.J.P Weijerman tewas diujung peluru penembak jitu, pada tanggal 20 Oktober 1893, dan dikuburkan di pemakaman Belanda Kerkhoff-Peutjoet Banda Aceh. Sebagai pelampiasan kemarahan, akhirnya Belanda membakar seluruh bangunan mesjid Siem saat itu.

Kolam kecil dengan ukuran bukaan atas sekitar 6 x 10 meter memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Banyak putra putra terbaik Mukim Siem yg pernah atau sedang menjadi pejabat di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten pernah belajar berenang di sini.

Hari ini Pengurus Masjid Jamik Baitul Ahad Mukim Siem, dihadapkan pada sebuah dilema. Adanya banyak suara yang mendesak agar kolam ini dimusnahkan karena dianggap mengganggu pembangunan atau pengembangan masjid. Namun tak kurang banyak juga yang secara tegas menyatakan kulam Tuha ini wajib dipertahankan. Terus… Bagaimana, mohon masukan dari kita semua.

Share